Selasa, 16 April 2013

Sebuah Kisah: The Power of Ikhlas



Oleh : Mohamad Rian Ari Sandi

Ikhlas adalah inti ajaran Islam. Bagi saya ilmu ikhlas adalah ilmu yang seorang profesor pun belum tentu memahami dan menguasai ilmu ini, juga ilmu yang seorang Kiai besar pun belum tentu mengamalkannya secara konsisten dan sempurna.
Dalam tulisan ini saya tidak akan mengulas ilmu ini secara mendalam. Karena tentu saja terlalu berat bagi saya yang pemahaman ilmu agamanya masih dangkal. Namun saya akan menuliskan sebuah cerita yang menunjukan bahwa ada kekuatan suci yang dihasilkan dari pengamalan ikhlas. Cerita ini saya kutip dari buku “Ikhlas Tanpa Batas” terbitan Zaman.
Alkisah ada seseorang dari kaum Bani Israil yang rajin beribadah. Ia beribadah kepada Allah dalam masa yang lama. Kemudian datanglah orang-orang kepadanya, menyatakan, “Di sini ada kaum yang menyembah pohon, bukan menyembah Allah.”
Ia marah mendengar itu. Ia kemudian mengambil kampaknya dan menyandangnya di atas pundaknya, lalu menuju pohon itu untuk menebangnya.
Iblis menyambutnya dalam rupa seorang tua. “Hendak ke mana engkau?” kata Iblis.
Si alim menjawab, “Aku mau tebang pohon ini.”
Iblis bertanya, “Ada perlu apa engkau dengan pohon itu? Engkau tinggalkan ibadah dan kesibukanmu dengan dirimu, dan meluangkan diri untuk selain itu.”
“Sungguh ini termasuk ibadahku,” jawab si alim.
“Aku tak akan membiarkanmu menebangnya,” sergah Iblis.
Si alim pun berkelahi dengan Iblis. Si alim membantingnya dan menduduki dadanya. Maka Iblis berkata, “Lepaskan aku. Biar aku bisa bicara denganmu.”
          Si alim pun berdiri meninggalkannya, lalu berkatalah Iblis padanya, “Hai, sesungguhnya Allah telah menggugurkan kewajiban ini darimu dan tidak mewajibkannya atasmu. Engkau tak menyembahnya. Dan engkau tak wajib menyeru orang-orang selainmu. Allah mempunyai nabi-nabi di muka bumi. Kalaulah Dia menghendaki, tentu Dia akan utus mereka dan memerintahkan mereka menebangnya.”
          Berkatalah si abid, “Aku harus menebangnya.”
          Iblis menyerangnya, namun si abid mengalahkannya, membanting dan mendudukinya. Iblis pun tidak berkutik.
          Iblis lalu berkata kepadanya, “Maukah engkau mendapatkan sesuatu yang memisahkan aku dan engkau, dan lebih baik dan lebih berguna bagimu?”
          “Apa itu?” jawab si abid.
          “Lepaskan aku biar aku mengatakannya padamu,” kata Iblis.
          Iblis pun mengatakan, “Engkau ini orang miskin yang tak punya apa-apa. Engkau meminta-minta kepada orang-orang yang memberimu nafkah. Tidakkah engkau senang bila engkau bersedekah kepada saudara-saudaramu, membantu para tetanggamu, serta menjadi kenyang dan tidak bergantung pada orang-orang.”
          “Ya,” jawab si abid.
          Iblis berkata, “Tinggalkan urusan ini dan aku akan menaruh dekat kepalamu setiap malam dua dinar. Setiap pagi engkau mengambilnya, lalu engkau beri nafkah buat dirimu, anak-anakmu, serta sedekah bagi saudara-saudaramu. Itu lebih berguna bagimu dan kaum muslimin daripada menebang pohon ini yang tertanam di tempatnya, yang tak merugikan ataupun bermanfaat buat mereka bila ditebang.”
          Berpikirlah si abid tentang apa yang Iblis katakan. Ia pun berpikir: memang benar pak tua ini. Aku bukanlah seorang nabi, yang harus menebang pohon ini. Tidak pula Allah memerintahkan aku untuk menebangnya, yang membuatku berdosa bila tak menebangnya. Apa yang ia sebutkan lebih banyak manfaatnya.
          Si abid pun memintanya berjanji menepati imbalan itu dan bersumpah. Lantas kembalilah si abid ke tempat ibadahnya.
          Keesokan paginya si abid mendapati dua dinar di dekat kepalanya. Ia pun mengambilnya.  Demikian pula esoknya. Namun hari ketiga dan berikutnya ia tak mendapati apa-apa.
          Ia pun marah, mengambil kampaknya dan menyandangnya di pundak.
          Iblis menyambutnya dalam rupa seorang tua. “Hendak kemana engkau?” tanya Iblis.
          “Aku akan menebang pohon itu,” jawab si abid.
          “Engkau bohong. Demi Allah engkau tak mampu melakukannya dan tidak ada jalan bagimu menujunya,” kata Iblis.
          Si abid pun mau membantingnya seperti sebelumnya pernah ia lakukan.
          “Tak akan bisa”, kata Iblis.
          Iblis malah memegang dan membanting si abid, hingga ia seperti burung di hadapan Iblis. Iblis pun menduduki dadanya, seraya berkata, “Berhentilah engkau dari perbuatan ini atau aku akan membunuhmu.”
          Si abid tak lagi punya tenaga, dan berkata, “Engkau telah mengalahkanku. Lepaskan aku dan beri tahu aku bagaimana aku bisa mengalahkanmu dulu tapi kini engkau bisa mengalahkanku.”
          Iblis pun menerangkan, “Sebelumnya engkau marah karena Allah dan niatmu karena akhirat, maka Allah menundukanku di hadapanmu. Kali ini engkau marah karena dirimu dan dunia, maka aku berhasil menghajarmu.”
          Itulah kisah teladan yang memberi pelajaran kepada kita bahwa ikhlas merupakan suatu hal yang sangat fundamental dalam islam. Tidak hanya itu ikhlas juga ternyata memicu kekuatan dalam diri setiap pribadi muslim ketika melakukan kebaikan atas dasar niat karena Allah. Semoga kita bisa terus belajar dalam mengamalkan ilmu ikhlas tersebut. Walaupun sedikit demi sedikit.
Wallahualam bish-shawab

Tulisan ini juga dimuat di : http://sosbud.kompasiana.com/2013/04/17/sebuah-kisah-the-power-of-ikhlas-551913.html
         

Jangan Bergantung pada SvD, Persib!



Oleh : Mohamad Rian Ari Sandi

sumber gambar : http://jaringnews.com/olahraga/sepakbola/37527/persib-merasa-beruntung-bisa-dapatkan-sergio-van-dijk
 
Sergio van Dijk! Sepertinya nama pemain berkepala pelontos ini sudah sangat familiar di kancah persepakbolaan nasional. Apalagi jika lingkupnya di kalangan masyarakat penggemar sepakbola Jawa Barat yang notabene basis pendukung Persib Bandung. Ya, walaupun tidak bermain dari awal musim bergulir, SvD tetap mampu membuat para penggemar sepakbola Indonesia umumnya dan para bobotoh pada khususnya berdecak kagum. Pertandingan melawan Persita Tanggerang, Senin 15/4/2013 kemarin,  seolah kembali mempertegas bahwa kualitasnya memang luar biasa. SvD berperan besar membantu Persib menunmbangkan Persita dengan skor mencolok 5-1.
        Di pertandingan itu SvD tampil sangat baik. Pergerakannya sepanjang 90 menit pertandingan mampu membuat pertahanan Persita kocar-kacir. Buktinya, ia memberikan dua asisst terhadap terciptanya gol yang dilesakkan oleh M Ridwan dan Airlangga.
        Saat pertandingan seperti sudah akan selesai dan bobotoh sudah cukup puas dengan penampilan Persib, SvD seakan memberikan kepuasan lebih kepada bobotoh dengan mencetak gol spektakuler. Golnya tersebut melengkapi dua assist yang sudah dibuatnya, sekaligus menyempurnakan penampilannya pada pertandingan tersebut.
        Penampilan apik SvD kemarin tentu membuat para bobotoh semakin mencintainya. Catatan 10 gol dalam 10 pertandingan boleh dibilang merupakan catatan spesial karena tidak semua penyerang bisa melakukannya. Di sisi lain kita tentu senang Persib memiliki kartu truf baru dalam mengarungi jalannya kompetisi ISL musim ini. Namun di sisi lain kita juga tidak boleh memberikan ekspektasi berlebihan kepada SvD. Apalagi jika Persib terlalu bergantung kepada SvD seorang.
        Rasanya masih cukup segar dalam ingatan kita pada beberapa musim yang lalu ketika Persib ditinggalkan Beckamenga. Saat itu Persib dalam posisi yang bagus untuk meraih gelar juara dengan Beckamenga sebagai senjata utama dalam mencetak gol. Namun kondisinya berubah drastis ketika Beckamenga meninggalkan tim di tengah jalan. Kepergian Beckamenga berimplikasi kepada seretnya keran gol Persib dan sulitnya Persib dalam meraih kemenangan. Walaupun tidak dapat dipungkiri ada juga faktor lain yang menyebabkan menurunnya penampilan Persib sebelum kepergian Beckamenga, tetapi kepergian Beckamengan tetap lah dirasakan memberi dampak cukup besar kepada menurunnya grafik penampilan tim. Pada akhirnya kita semua tahu, posisi puncak klasemen wilayah barat yang digenggam di paruh musim tidak bisa dipertahankan. Malah, Persib terlempar ke posisi lima dan secara otomatis tidak bisa melaju ke babak 8 besar.
        Pengalaman tersebut hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi tim Persib saat ini. Jangan sampai seluruh komponen tim baik itu manajemen, pelatih, pemain, dan bobotoh terlalu bergantung pada seorang SvD. Karena tidak menutup kemungkinan di tengah jalan ada sesuatu hal yang membuat SvD absen bermain atau performanya menurun. Tentu kita semua berharap bahwa SvD bisa terus tampil konsisten. Namun alangkah lebih baik jika para pelatih mengingat falsafah “sedia payung sebelum hujan”
. Artinya, pelatih harus mempersiapkan dari saat ini komposisi dan strategi tim manakala SvD absen atau tidak tampil baik. Sehingga pada waktunya SvD absen atau tidak tampil baik tidak terlalu berpengaruh terhadap penampilan tim secara keseluruhan dan Persib bisa terus melanjutkan tren kemenangan.
        Semoga musim ini bisa menjadi pelepas dahaga gelar juara liga. Masyarakat sepak bola Jawa Barat sudah merindukan ingin melihat tim kebanggaannya kembali menjadi jawara. Go Persib go!

Tulisan ini juga dimuat di http://olahraga.kompasiana.com/bola/2013/04/16/jangan-bergantung-pada-svd-persib-551741.html

Jumat, 15 Maret 2013

Totti andf Buffon

Oleh : Pratama Syah Alam

17 Feburuari musim 2012-13, pasukan Serigala Roma berhasil membungkam Sang Capolista Juventus, lewat goal semata wayang yang dilesakan oleh Il Capitano Francesco Totti, Roma memenangkan pertandingan dengan skor tipis 1-0 didepan dara Tifosi, kemenangan ini adalah hal yang tidak di duga oleh hampir semua orang, pasalnya Si Nyonya Tua (julukan Juve), sedang mengalami tren positif, berbanding terbalik dengan Roma yang masih dalam masa transisi dengan pelatih baru, pasca pemecatan Znedek Zeman.
          Selalu menarik menyaksikan pertandingan dua raksasa Italia ini, apa lagi saat melihat dua kapten yang merupakan dua pemain terbaik yang dimiliki Italia, yang juga pernah mengantarkan Italia menjadi Juara dalam World Cup 2006, mereka adalah Francesco Totti dan Gianluigi Buffon.
          Keduanya merupakan rival dalam lapangan, tapi tak membuat persahabatan mereka rusak, Totti dan Buffon terkenal merupakan dua sahabat yang dekat, tapi sebagai pemain sepak bola professional mereka harus saling bertarung untuk membuat menang tim yang mereka bela.
          Francesco yang berposisi sebagai penyerang dan Gigi yang seorang kiper, membuat keduanya harus saling berjibaku, untuk memasukan bola dan menyelamatkan gawang. Seperti gol yang terjadi dalam pertandingan terakhir Roma kontra Juve, bola berhasil disarangkan oleh kaki Sang Pangeran, merobek gawang yang dijaga oleh kipper berjuluk Superman tersebut.
          Itu bukan gol biasa karena selain membawa Il Gialorossi (julukan Roma) memenangkan pertandingan, Totti juga berhasil memenangkan pertarungan melawan Gianluigi Buffon, mereka berdua selalu mengutarakan keinginannya untuk bertarung dan memenangkan pertandingan.
          Totti pernah berkata, “Gigi merupakan kipper terbaik dunia, aku bangga menjadi sahabatnya, tapi saat berhadapan dilapangan, aku selalu ingin mencetak gol ke gawangnya, suatu kebanggaan bila bisa menyarangkan bola ke gawang kiper sekelasnya (Buffon).”
          Nada serupa jiga pernah diungkapkan sang rival, Buffon “Bila melihat Totti bermain itulah permainan Italia yang sebenarnya, dia adalah roh Italia yang masuk ke klub ibukota, Roma adalah Totti dan Totti adalah Roma, setiap bertanding aku selalu menunggu tendangannya, aku akan merasa hebat bila bisa mengamankan gawang dari tendangan Francesco.”
          Sungguh hebat kedua Legenda Italia itu, mereka bisa menunjukan respect, meskipun mereka adalah rival, persahabatan seperti ini harusnya bisa dimiliki oleh setiap pemain, Italia patut bangga memiliki playmaker-striker seperti Totti dan kipper kawakan macam Buffon.
Forza Roma. No Totti No Party.