Sabtu, 01 Desember 2012

Napoleon Bonaparte Seorang Muslim


 
Oleh: Intan KP

Welcome to Paris. Paris Ia Ville-Lumiere. The City of Lights. Buat kamu yang suka travelling belum dianggap ke Eropa sebelum menginjakan kaki di bumi Paris. Apa saja sih yang menarik dari Paris sehingga ia dijuluki sebagai kota cahaya bukan hanya sebagai pusat mode dunia? Kilik-kilik soal politik, eh jangan politik dulu ya, kita rehat sejenak soal bahasan politik, usut punya usut mengapa Paris disebut sebagai The City of Lights adalah karena di sini pernah tertoreh sejarah peradaban Islam yang amat dahsyat, bahkan saking dahsyatnya tak banyak media yang mau mengungkap sejarah peradaban yang agung itu di tanah Eropa khususnya di Bumi Bonaparte ini. Hal ini dikarenakan jejak muslim di Eropa amatlah membanggakan, dan tahu sendiri kan mengapa kejayaan Islam tak banyak di ekspos? Yapp itu karena penyakit islamphobia masih menjangkit banyak warga dunia terutama negara-negara Barat. Hmm, We hope in one day, they are will be know that’s Islam is not something that be affraid, but Islam is peacefull to our in the world.
Oke, lets go to our topic above. Apa saja yang menjadi daya tarik kalau orang berkunjung ke Paris? Menara Eiffel? Ah itu sih biasa. Ada yang luar biasa dari hanya sekedar berbicara Eiffel, yaitu situs-situs sejarah peninggalan peradaban ‘renaisensce’ dan tentunya rekam jejak Muslim di Eropa, serta sssstttt…sebuah dokumen-dokumen yang mengindikasikan bahwa seorang kaisar Perancis sang tokoh paling berpengaruh di Paris terutama Eropa ternyata dia Muslim. Siapakah dia? Benar, dia adalah Napoleon Bonaparte.
Sebelum kita mengungkap lebih jauh tentang keislaman sang kaisar, mari kita tengok dulu wisata-wisata cantik di Paris van Java, eh itu mah Bandung ya, maksudnya Paris yang sebenar-benarnya Paris, Perancis. Ini dia situs-situs menarik yang penuh intrik. Pertama ada Masjid paris, kemudian ada Notre Dame Cathedral, ada St. Michel, Arab World Institute, Louvre, dan ada Pantheon. Untuk yang terakhir, saya punya ulasan yang cukup menarik  untuk menambah wawasan sejarah kita.
Di sekitar jalan Boulevard Saint Michel, terdapat sebuah bangunan besar. Itu Pantheon. Pantheon dulunya adalah sebuah gereja dan sekarang menjadi kuburan. Banyak orang-orang terkenal dikuburkan di sana. Struktur banguna Pantheon tinggi dan besar, beratap kubah dan disangga 6 pilar berukuran raksasa. Pantheon sangat mencolok karena posisinya di tengah jalan. Kubahnya menyerupai rotunda gedung Capitol Hill di Washington DC. Takkan ada yang mengira bangunan semewah itu ternyata tempat disemayamkannya tubuh manusia.
Jasad-jasad yang tidur abadi di Pantheon kebanyakan bukanlah tokoh-tokoh gereja, melainkan para sastrawan, filsuf dan ilmuwan. Pernah mendengar nama Victor Hugo, Voltaire, Marie Curie, Louis Braille? Mereka ini dikebumikan di Pantheon.
Mari kita tinggalkan bahasan tentang Pantheon. Sekarang kita harus mengetahui (mungkin sedikit) tentang keislaman Napoleon. Ini baru data penelitian yang belum diekspos secara umum dan belum diterbitkan dalam jurnal ilmiah internasional, namun data-data ini cukup untuk kita untuk menarik benang merah dari semua data yang terkumpul.
Pernah mendengar istilah Voie Triomphale?  Dalam Bahasa Indonesia berarti Jalan Kemenangan, Kiblat, Mekkah arah paling istimewa bagi seluruh umat Islam di dunia. Voie Triomphale ini sengaja dibuat oleh Napoleon Bonaparte untuk merayakan kemenangannya sebagai Sang Penakluk Eropa.
Napoleon memerintahkan membangun dua monumen besar berbentuk pintu gerbang mengapit jalan Champ-Elysees. Pintu gerbang ini adalah symbol kemenangan dan kebebasan. Kemudian muncullah bangunan tambahan sepanjang garis antara dua monument tersebut. Obelisk Mesir tahun 1800-an, lalu piramida Louvre, dan Ia Defense atas perintah Presiden Mitterand. Semua bangunan itu, jika ditarik oleh garis imajiner akan membentuk satu garis lurus dan menghadap Ka’bah.  
Lalu apakah itu memngindikasikan bahwa Napoleon seorang Muslim? Sekembalinya dari ekspedisi dari Mesir, Napoleon menjadi begitu religious. Banyak kutipaan dalam sejarah yang mengatakan bahwa Napoleon begitu memngagumi Al-Quran dan Nabi Muhammad. Mungkin itu strategi dia untuk merangkul rakyat Mesir? Hmm… kita tahukan ada sistem hukum yang dia buat sekembalinya dia dari Paris, hukum itu terinspirasi dari pertemuannya dengan seorang imam di Mesir yang mengajak Napoleon dalam sebuah acara Islam. Yang kemudian kita tahun sistem hukum itu diberi nama Napoleonic Code. Dan jika dicermati isinya mirip dengan syariah Islam.
Ada lagi. Francois Menou, sang Jenderal kepercayaan Napoleon masuk Islam setelah pulang dari Mesir. Kita hanya bisa membayangkan seberapa besar pengaruh seorang kaki tangan dari seorang sosok paling berpengaruh dalam hal memberi masukan untuk atasannya, terlebih untuk urusan paling pribadi seperti agama dan keyakinan? Tidak ada yang tahu dalamnya hati manusia. Yang jelas, Napoleon meninggal ‘tidak jauh’ dari Islam.
Kenyataan jika memang benar bahwa Napoleon adalah seorang muslim tidak akan dibuka ke publik. Mengingat bahwa sosok Napoleon adalah sosok kebanggaan rakyat Eropa, juga seorang founding father. Jika hal ini disebarluaskan secara mondial tentu akan mengurangi ‘kebesaran’ sang kaisar di mata orang Eropa dan dunia. Oleh kaena itu, demi kepentingan nasional fakta ini takkan diungkap. Andai saja media Eropa dan Barat lebih objektif mengungkap fakta ini, mungkin persepsi masyarakat Barat terhadap Islam tidak seperti sekarang. Wallahu’alam bi shawab.

1 komentar:

  1. Andai benar Napoleon seorang Muslim, mungkin memang akan selalu ditutupi oleh mereka.
    (AS.Pratama)

    BalasHapus